My Activity

By Sofia Riyadi

English Version

Malala

Oleh Sofia Riyadi

Pada tanggal 9 Oktober 2012, Malala sedang menaiki bus khusus untuk anak-anak yang bersekolah di sekolah ayahnya. Tiba-tiba bus itu dihadang oleh dua pemuda Taliban. Salah satu dari pemuda itu menaiki bagian belakang bus. "Yang mana Malala?", ucap salah satu pemuda Taliban itu. Malala pun memberitahu dirinya sendiri. Setelah itu pemuda Taliban itu menembak Malala dua kali. Yang pertama mengenai dahi kiri Malala dan yang kedua mengenai lehernya. Malala pun hilang kesadaran dengan penuh darah.

Dulu ketika Afganistan berperang dengan Inggris, para tentara Afganistan mulai kehilangan harapan mereka. Pada saat itu ada seorang gadis yang menyaksikan kemunduran tentaranya. Maka ia pun naik ke atas bukit dan memotivasi para tentara. Tentara yang kehilangan harapan itu pun mulai memperhatikan dia. Dengan penuh motivasi dari sang gadis para tentara pun mulai melawan lagi. Sepanjang perang gadis itu memotivasi mereka, hingga ia tertembak dan meninggal di tengah medan perang. Nama gadis itu adalah Malalai.

Hal ini merupakan asal-usul nama peraih nobel perdamaian termuda, Malala Yousafzai. Malala lahir di Mingora, Distrik (lembah) Swat, Pakistan, 12 Juli 1997. Ayahnya bernama Ziauddin Yousafzai, dan ibunya bernama Tor Pekai Yousafzai, degan dua adik laki-lakinya, Khushal dan Atal. Dari suku Pusthun. Sebagaimana mayoritas orang Pakistan, mereka penganut agama Islam Sunni.

Malala dapat meraih nobel perdamaian termuda, karena ia telah memperjuangkan pendidikan untuk anak-anak yang telah dicabut dari pendidikan, terutama anak perempuan. Perjuangannya telah dilakukan olehnya sejak dini. Ketika berumur 12 tahun Malala sudah mengirim tulisan atau diari harian kepada BBC, untuk menceritakan kejadian sehari-hari di Lembah Swat ketika Taliban menguasai tempat tinggalnya. Tulisannya disebarkan luaskan dan namanya disamarkan menjadi "Gul Makai". Malala berani melakukan hal ini karena dia masih kecil. Tidak mungkin Taliban membunuh anak kecil. Dengan demikian Malala memanfaatkan celah itu.

Namun setelah itu terjadi perang antar pasukan pemerintah Pakistan dengan Taliban. Sebagian penduduk mengungsi, begitu pula keluarga Malala. Salah satu tempat yang mereka tempati ketika mengungsi adalah Abbattabad. Dalam perang melawan Taliban, banyak pemuda yang dilatih untuk misi-misi pengeboman bunuh diri. Akhirnya para tentara pemerintah Pakistan dapat mengusir Taliban. Tapi beberapa bulan kemudian dating surat ancaman dari Taliban yang ditujukan kepada ayah Malala. Hingga akhirnya yang tertembak adalah bukan ayah Malala, melainkan Malala sendiri.

Setelah tertembak, Malala langsung dilarikan ke Rumah Sakit Militer di Peshawar. Malala pun dioperasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di kepalanya. Untung Malala dapat diselamatkan. Supaya bisa mendapatkan perawatan yang lebih intensif, maka Malala diterbangkan ke Inggris. Di Inggris, Malala mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Queen Elizabeth. Di sana Malala diberi terapi agar syarafnya dapat kembali seperti dulu. Namun tetap saja Malala masih kesulitan dalam hal kecil seperti mengedipkan mata kirinya.

Setelah Malala sudah selesai dirawat, pada tanggal 12 Juli 2013, Malala berpidato di Forum Majelis Kaum Muda. Malala berpidato mengenai mengenai hak anak perempuan untuk bersekolah. Selesai berpidato semua orang berdiri dan bertepuk tangan untuk Malala. Berkat perjuangannya, pada tahun 2014 Malala memenangkan nobel perdamaian pada umur 17 tahun.

Malala menginspirasi diriku karena Malala berani memperjuangkan hak anak perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang sama dengan laki-laki. Malala juga tidak memiliki rasa amarah bahkan sekecil atom kepada orang yang menembaknya. Aku juga suka dengan kalimatnya yaitu "Satu anak, satu guru, satu buku, satu pena bisa merubah dunia !"

TAMAT


Thank You For Coming To My Website

My email : sofiariyadi@gmail.com