My Activity

By Sofia Riyadi

English Version

Hari-hari Setelah Aku Mati

Oleh Sofia Riyadi

Prolog

Namaku Eglantine Roxanne Susan. Karena ketika aku lahir wajahku memikat hati dan aku lahir ketika fajar merekah serta bauku seperti bau bunga lili. Aku lahir pada tanggal 25 Juni 2007. Hobiku menyanyi. Aku sekolah di Coral Junior High School. Aku merupakan gadis yang kidal, pintar, cantik, kaya. Mungkin aku punya segalanya, hal-hal yang orang lain ingin ada pada diriku. Aku hanya memiliki satu kekurangan.

Kata ayah dan ibuku mereka akan mencintaiku sepenuh hatinya. Namun mereka berbohong. Tiap malam pasti mereka menggosipkan aku, mencela aku, bahkan mereka berharap tidak punya anak seperti aku. Semua ini karena tangan kananku yang buntung. Tangan adalah kebutuhan yang sangat mendasar dan dari dua tangan aku hanya memiliki satu.

Aku juga suka diejek oleh teman-temanku hanya gara-gara tanganku. Kehidupanku juga ikut menjadi susah, hanya gara-gara tanganku. Aku selalu depresi setiap hari. Sering kali aku juga menangis. Walau tidak berguna, perasaanku menjadi agak lega. Aku sudah tidak tahan dengan semua ini, karena itu aku akan melarikan diri.

Walau aku tidak tahu seperti apa tempat itu, aku hanya memiliki satu fakta tentang tempatnya. Yaitu orang yang sudah pergi ke tempat itu tidak dapat kembali ke dunia ini. Ya aku akan bunuh diri dan menjalani kehidupan disana.

Kring~
Suara beker membangunkanku. Aku langsung bangun & bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Aku begitu bersemangat untuk menjalani hari ini. Padahal dalam rencanaku hari ini aku akan bunuh diri. Mungkin aku memang sudah muak dengan hidup ini. “ Susan, sarapan sudah siap ! " teriak ibu.
Aku turun tangga dan duduk di kursi meja makan. Kemudian aku duduk dengan tenang. Tiba-tiba telepon rumah berbunyi dan ibu mengangkat telepon itu. Sebetulnya aku tidak peduli dengan telepon itu, tapi sebuah ide muncul di otakku. Bagaimana kalau aku menusuk perutku dengan pisau ? Apakah aku akan mati ?

Pada saat itu juga aku mengambil pisau dapur. Tanpa berpikir panjang aku menusuk pisau itu pada perutku sedalam mungkin, lalu mencabut pisau itu. Kemudian darah semerah mawar mengalir. Indah sekali warnanya. Lalu kudengar suara teriakan dan tangisan ibu lalu aku meninggal.

Hari Pertama

Bruuk~
Aku terjatuh ? Dimana ini ? Seluruhnya gelap gulita dan tubuhku nyeri. Lalu tanpa sadar aku memegang perutku. Tidak ada bekas tusukan. Rasanya mual sekali memikirkan tindakanku tadi. Tapi yang lebih penting dimana aku sekarang ? Aku mencoba berdiri tapi tidak bisa. Nampaknya aku diikat. Aku mencoba lagi, lagi, lagi, dan lagi, tapi posisiku juga tidak berubah.

“Wah nampaknya kau tidak dapat bergerak nona Eglantine Roxxane Susan.“
“Bagaimana kau bisa tahu namaku ? “ ucapku.
“Aku merupakan salah satu penjaga tempat ini yang merupakan tempat orang-orang yang bunuh diri untuk menunggu dimana atau bagaimana nasib kamu berikutnya.”
“Jadi kamu akan menemaniku selama aku disini ? “ tanyaku.
“Iya nona Roxxane. Aku lepas dulu ikatanmu. “
“Aku biasa dipanggil Susan. Siapa namamu ? ”
“Terserah mau panggil aku apa saja.”
“Kalau begitu aku ingin kamu dipanggil Mary. “
“Ok, Susan. “

Mendadak orang yang kusebut Mary berubah. Rambutnya panjang dan berombak berwarna cokelat. Wajahnya mungil. Bibirnya merah. Dia juga lumayan tinggi. Jarinya lentik. Dia terlihat cantik sekali.

Tiba-tiba muncul sebuah kamar yang mewah di depan mataku.
“Ini merupakan kamarmu untuk sementara. Kalau butuh apa-apa, silahkan panggil aku. “
Waow ! Kamar ini bagus sekali, tidak seperti kamarku. Kasurnya empuk sekali. Apalagi seprainya imut. Kemudian ada lemari kayu yang isinya penuh dengan buku komik. Nampaknya kamar ini dibuat sesuai seleraku. Kurasa aku akan baik-baik saja disini.

Mungkin aku belum cerita tapi disini tanganku lengkap, tidak ada yang buntung. Rasanya senang bukan kepalang. Semua nampak seperti mimpi. Tapi ini semua nyata. Aku masih belum mengantuk, jadi aku baca buku komik dulu. Tapi aku juga masih belum mengantuk, jadi aku memutuskan untuk keluar dari kamar

Kubuka pintu kamarku dan aku berjalan satu langkah. Disini semuanya gelap gulita, tidak ada cahaya dimanapun. Sungguh dingin di luar sini. Sekarang aku kembali ke kamar saja. Aku membalikkan badan dan kamarku menghilang. Rasa takut menyelubungi diriku. Kemudian tiba-tiba ada tangan yang memegangi kakiku, tidak hanya satu tapi banyak. Aku gelisah dan merinding. Tangan-tangan itu berusaha menarikku ke bawah. Aku berusaha keras melepaskan tangan-tangan itu.
"Mary!! Mary !!” ucapku dengan penuh keringat.
“MARY!!!!!!”
Tiba-tiba Mary datang dan tangan-tangan itu hilang.
“Dasar bodoh, jangan pernah keluar kamar sendirian !!”
“Apa itu tadi ?” tanyaku dengan lirih.
“Mereka adalah arwah penasaran yang jahat dan mereka akan selalu mengganggu kamu kalau kamu keluar kamar. Dan hanya aku yang bisa mengurus mereka, mengerti ?”

Aku mengangguk pelan. Lalu Mary mengantarku ke kamar. Aku syok memikirkan kejadian yang tadi. Aku masih bisa mengingat tangan yang tadi menarikku. Aku pun berpikir, apakah aku akan menjadi seperti itu ? Tidak, tentu aku tidak mau. Pikiranku masih penuh dengan tangan-tangan itu. Nafasku masih tidak beraturan. Aku ingin menenangkan diri.

Kulihat di meja rias ada handphone yang mirip dengan handphoneku. Kuraih handphone itu. Lalu aku membuka handphone itu dan memainkannya. Aku bermain sambil berusaha melupakan kejadian tadi. Karena penasaran aku membuka wa ku. Dan yang mengagetkan adalah masih ada nomor temanku lalu aku masih bisa berhubungan dengan mereka. Senangnya bahwa ternyata aku tidak sendiri disini. Sambil tertawa aku pun terlelap dan tidur.

Hari Kedua

“ Susan, ayo bangun ini sudah pagi. “ ucap Mary.
Badanku masih terasa berat dan aku juga masih mengantuk. Tapi aku segera bangun setelah melihat susu cokelat hangat dan biskuit yang dibawakan oleh Mary. Aku masih belum terlalu sadar tapi ternyata model kamarku diganti berganti ! Sekarang tempat tidurku menjadi ala anime. Ada poster anime di mana-mana, ada banyak komik yang tak terhitung, dan juga ada banyak tanda tangan komikus terkenal.
“Hei mau jalan-jalan engak keliling taman ? ” ucap Mary.
“ Mau ! ”.
Aku langsung berganti baju menjadi baju berbahan kain sutra dingin. Sepatuku yang tadi sepatu rumah berganti menjadi sepatu pantofel yang chic. Aku pun menjadi cantik.

Lalu aku keluar kamar bersama Mary dan jalan ke taman. Di taman itu terdapat beberapa bunga yang indah dan terdapat beberapa pohon yang rindang. Tanpa sadar aku lari ke arah bunga bunga itu.

" Seru ya ? " ucap Mary.
" Iya. "
" Sekarang kita pindah tempat. Aku ingin menunujukkan sesuatu padamu. "
Sekarang aku mengikuti Mary jalan. Aku tidak tahu Dia jalan kemana, tapi nampaknya tempat yang dituju Mary menyeramkan. Karena lama lama tempatnya menjadi gelap.
" Nah, sekarang pertanyaan dariku. Kenapa kamu bunuh diri ? Apakah kamu tidak memikirkan kenyataan ini ? "
Dan sekarang tiba tiba di depanku ada layar yang menunjukkan ayah ibuku.
" Seharusnya kita tidak perlu bertengkar hanya gara gara Susan. Aku menyesal karena sekarang aku tidak bisa bertemu dengannya lagi. " ucap ibu sambil terisak.
" Satu satunya anak kita. Anak kita yang manis meninggal. Walau tangannya satu sekarang aku sadar bahwa hatinya sangatlah hangat." ucap ayah.
Tidak tidak tidak tidak. Bukan ini yang kuharapkan. Aku bunuh diri bukan agar ayah ibu sedih.
" Ini masih mending daripada ketika mereka tahu kamu meninggal. " ucap Mary.
Dan layar itu berubah menjadi gambar orangtuaku pada saat hari aku meninggal.
" Biarkan aku mati, Robert! Biarkan aku mati menyusul Susanku!! Biarkan aku mati !!!!!! " ucap ibuku.
" Elena, Elena, tenangkan dirimu. Elena, tenangkan dirimu !! " ucap ayahku.
Astaga. Ternyata kematianku sangat berpengaruh pada orangtuaku. Aku padahal tidak bermaksud. Aku padahal tidak bermaksud !! Lalu layar itu lama kelamaan menjadi kecil. Segera aku mengais ngais layar itu. Aku tidak ingin berpisah dengan orangtuaku. Aku tidak ingin !!!
" Telat. Itu semua adalah hukum karma untukmu. Sekarang tugasku adalah mengantar kamu ke kamarmu." ucap Mary.

Darahku mendidih sepanas api. Aku teriak sekeras mungkin. Aku pun melempar barang sembarangan sampai rusak. Marah dan sedih. Hanya itu yang kurasakan. Mengamuklah aku. Lelah. Aku lelah. Padahal aku bunuh diri karena ayah dan ibuku selalu tidak menginginkanku. Padahal aku bermaksud memuaskan mereka. Kenapa semua yang kulakukan selalu salah ? Kenapa semua yang kuputuskan selalu salah ? Kenapa jalan yang kupilih selalu salah ? Muak aku dengan diriku sendiri.

Sejak dulu aku selalu salah. Dulu nilaiku selalu 100 ketika SD kelas 1, malah dituduh mencontek. Lalu gantian nilaiku 80 dimarahin karena dikira tidak berusaha. Aku enggak bersih bersih rumah dimarahin, tapi kalau aku membersihkan rumah dimarahin juga. Padahal niatku sejak dulu hanyalah dipuji. Tidak perlu dipuji berkali-kali. Sekali sudah cukup.

Ini salah. Itu salah. Mana sih yang benar ?! Setelah dipikir-pikir aku juga kangen dengan mereka. Aku rindu dengan tangan ayah yang hangat. Aku rindu dengan masakan ibu yang harum. Aku rindu dengan suara ayah yang terasa dekat. Aku rindu dengan pelukan ibu yang menenangiku.

Dengan ide yang mendadak terlintas dipikiranku, aku berteriak.
" Mary, lain kali ajak aku ke sana lagi ya !"
Dengan tersenyum hangat Mary menjawab, " Ya."
Lalu Mary keluar dari kamarku. Aku pun menghela napas panjang. Setelah dipikir-pikir selama aku disini perasaanku selalu penuh emosi. Selalu. Antara sedih, marah, senang. Aku juga selalu merasa kesepian. Karena temanku hanya Mary dan hp-ku. Mary juga jarang bersamaku. Namun pasti Mary akan selalu bersamaku, karena aku adalah satu-satunya temannya. Tapi Mary melakukan apa ya kalau tidak bersamaku? Aku menjadi penasaran. Apa aku tanya Mary saja ya ? Tapi jadi tidak enak sama Mary. Apa aku coba intip sebentar ya. Mumpung Mary belum jauh, intip ah.

Aku pun membuka pintu sebentar. Sedikit sekali karena aku masih takut dengan tangan itu. Rasa sedih memenuhi diriku. Aku merasa terkhianati. Kulihat Mary berbincang dengan seorang perempuan. Mereka berbincang dengan penuh tawa. Mary saja tidak pernah tertawa seperti itu bersamaku. Dan yang paling sedih adalah Mary sangat memperhatikan perempaun itu.

Kukira aku merupakan satu-satunya. Satu-satunya temannya. Pemandangan tadi menusuk hatiku. Sakit. Sakit. Sama seperti dulu aku selalu terkhianati. Kupikir disini lebih baik. Kupikir disini aku bisa tertawa. Kupikir disini aku bisa bebas. Kupikir disini aku bisa mempunyai teman. Ternyata dugaanku selama ini salah.

Aku capek. Aku capek. Aku keluar dari kamar. Aku hanya berjalan diantara jalanan hitam. Pikiranku kosong. Aku tidak peduli kalau aku ditangkap tangan itu. Lagian tidak ada yang akan merasa kehilanganku.
" Susan, kamu ngapain keluar sendiri ? Susan ! Hei bahaya, Susan ! Susan ! " ujar Mary.
Aku tidak peduli. Aku tidak peduli.

" Susan !!! "
Mary terus berteriak, tapi aku tidak merasa harus kembali ke kamar. Hingga tangan yang besar menarikku. Aku merinding. Tangan itu terus menarikku. Aku melawan. Akibatnya kakiku kulitnya ada yang robek. Aku berteriak.

" Susan !!!! "
Kulihat Mary berlari ke arahku. Aku menangis kesakitan. Tangan itu menarikku terus ke bawah. Aku mulai merasa kakiku akan copot, karena ditarik tangan itu. Aku sudah bersiap menerima rasa sakit itu. Namun sekarang yang berteriak bukan aku, melainkan Mary. Mary berteriak sangat keras. Tapi hanya sekali, karena tangan itu takut dengannya. Darah kemana-mana. Kaki Mary pun robek dan patah. Aku menangis. Mary terluka karena aku. Bagaimana kalau dia mati ?
" Tidak apa apa. Lihat lukanya hilang. " ucap Mary.
Dan benar lukanya hilang.
" Aku ini hanya seperti hantu. Saat sakit aku hanya merasakan sakit itu sekali lalu setelah itu luka itu hilang sendiri. "

Syukurlah. Syukurlah. Mary selamat. Aku pun memeluknya. Mary pun tersenyum dengan sangat hangat.
" Sudah, sudah, sekarang kita rawat lukamu. "
Iya juga ya. Sekarang aku merasa lemas dan pusing. Nampaknya aku kekurangan darah. Aku pun hilang kesadaran. Lalu pingsan.

Aku terbangun karena jahitan Mary yang sangat erat dan kuat. Sakit kelas berat. Rasanya seperti ditusuk berkali-kali.
" Sakit ya ? Kata orang lain jahitanku sangat erat dan kuat. Kalau sakit, maaf ya ? "
" Orang lain ? Maksudnya cewek yang tadi ? "
" Susan. Perempuan yang tadi itu merupakan jiwa orang yang bernasib sama seperti kamu. Kebetulan aku harus menjaga perempuan itu karena temanku yang seharusnya menjadi malaikat pelindungnya sedang sibuk. Jadi jangan ungkit-ungkit tentang itu lagi ya. "
Aku menganggguk. Jadi begitu ya. Hanya kesalahpahaman. Hanya kesalahpahaman. Aku merasa seperti orang bodoh yang tidak tahu malu. Aku hanya merepotkan orang lain. Aku hanya sampah.

Sedih. Hatiku menjerit. Butir-butir air mata turun dari mataku. Aku merasa malu. Aku tidak bisa apa-apa. Aku memang seharusnya tidak terlahirkan di dunia ini. Terlahirkan hanya untuk dibantu. Kayaknya aku itu barang ciptaan Tuhan yang cacat.

" Hei, Susan. Mungkin kamu berpikir bahwa kamu itu tidak berguna, lemah, cacat, dan lain lain. Tapi sebenarnya setiap kali aku bertemu denganmu aku merasakan rasa yang beda darimu. Auramu seperti bunga matahari. Bunga yang tahan diterjang angin. Namun bunga itu cepat mati setelah bunganya mekar. "
Memang benar seperti kata Mary. Aku kuat diejek siapa pun. Tapi aku bunuh diri di saat yang salah. Di saat yang seharusnya aku masih hidup.

Aku merasa dibuang. Ayah dan ibuku sendiri pun membuangku. Mengingat hal ini aku jadi ingat ketika ibu menangisiku. Pilu sekali. Eh ..tunggu dulu ibu menangisiku ? Bukankah aku tidak diharapakan oleh ayah dan ibu ? Aku ingin memastikan sesuatu.
“Mary ajak aku ke tempat tadi."

Mary pun mengatarku.
" Tampilkan saat aku lahir di dunia ini. "
Aku pun melihat ibu menangis ketika aku lahir. Melihat ayah yang dengan bangga menggendong aku. Sedih rasanya mengingat masa aku masih ditimang timang. Saat aku masih tidak diinjak-injak oleh kenyataan. Masa dimana aku masih disayangi.

Sekarang aku merasa bahwa ayah ibu selalu mendambakan aku. Tapi aku selalu merasa yang sebaliknya. Aku ingin melihat mereka lebih lama, namun aku sudah mengantuk. Jadi aku meminta Mary untuk membawa aku ke kamar. Sampai di kamar aku ganti baju lalu tidur.

Hari Ketiga

" Susan, ayo bangun sayang. Nah begitu baru anak ibu. " ucap ibu dengan lembut.
Air mata menetes ke pipiku. Mataku terbuka. Tidak ada siapa-siapa. Berarti tadi hanya mimpi. Padahal aku sudah mengharapkan kedatangannya. Tapi mustahil ya rasanya. Karena ibu pasti sudah dicegah ayah jika ibu mau bunuh diri. Ngomong-omong Mary mana ya ? Biasanya dia ada di sampingku saat bangun. Coba cari ah.

Aku berusaha turun dari kasur. Aduh ! Sakit banget ! Aku lupa kalau aku kemarin kakiku dijahit. Mary betul jahitannya sangat sakit. Rasanya seperti masih ditisuk dan robek. Kurasa aku tidak bisa berjalan. Mary datang dong. Kakiku sakit nih.

Mendadak Mary muncul dari luar. Namun ada yang aneh dari Mary. Mukanya sangat muram dan bengkak karena banyak menangis. Badannya juga lemas. Mary juga nampak tidak bersemangat.
" Mary ada apa ? "
Mary tidak menjawab hanya tertunduk. Tanpa menjawab pertanyaanku. Mary tiduran di lantai dan menangis. Mary menangis sekencang mungkin. Mary meraung-raung seperti badai. Aku pun memilih untuk diam membisu.

Setelah beberapa saat kemudian aku menanyai Mary.
" Mary ada apa ? "
" Kami para arwah, pernah menikah di dunia ini. Ketika kami menikah kami seperti saling membagi nyawa. Jadi kalau ada salah satu yang terluka, yang satunya akan ikut merasakan lukanya." Ujar Mary.
Tunggu dulu jadi..?
" Mary, jangan-jangan pasanganmu......... meninggal ? "
" Iya, John sudah meninggal. " tangisnya.
" Mary aku ikut berduka cita. Aku tidak tahu kalau kamu sedang kehilangan. "
" Aku menghargai perbuatanmu, Susan. "
" Mary, bagaimana kalau kita menenangkan diri terlebih dahulu. "
" Ok. " ucap Mary sambil terisak-isak.

Setelah itu, aku turun dari kasur. Aku turun dari kasur demi Mary, walau ini sakit banget. Aku turun lalu menyiapkan macha latte yang manis. Kuberi mug itu pada Mary. Mary pun menyesapnya perlahan-lahan. Untuk di saat seperti ini aku memilih untuk memberi Mary untuk sendiri dulu. Tadinya aku mau meberi ruang untuk Mary, tapi tidak jadi. Karena Mary memilih keluar setelah menghabiskan minumannya.

Aku pun berpikir. Aku baru tahu bahwa Mary bisa serapuh itu. Karena selama ini aku melihat Mary sebagai orang yang keibuan dan tegar. Ternyata Mary bisa menangis juga ya. Mary betul-betul mengingatkanku pada Mary yang di dunia nyata. Dia itu merupa...
" Susan, mau keluar kamar ? " tanya Mary.
" Mau banget ! "
Suara Mary betul-betul memecahkan konsentrasiku. Sudahlah, aku ganti baju saja.

Selesai ganti baju, aku pun jalan keluar bersama Mary. Selama kami berjalan Mary hanya terdiam. Aku juga tidak tahu topik apa yang cocok dengan saat-saat yang seperti ini. Ya sudah tanya Mary saja deh.
“Mary, kamu pasti sedih ya. Kehilangan orang yang disayangi itu memang berat. “
“Kamu juga pernah merasakan ? “ tanya Mary dengan penuh kebingungan.
“Iya, dulu aku pernah kehilangan kakak yang bernama Mary. “
“Jadi itu alasan kamu menamai aku Mary ya. Aku turut berduka. Tapi bisa kah kamu menceritakan tentang kakakmu ? “ tanya Mary.
“Ok, akan kuceritakan. “

#Flash back# “Susan, jawabannya bukan yang itu. “ tutur Mary dengan penuh kesabaran.
“Tapi aku bingung, kak. “
“Jawabannya itu yang ini.” jawab Mary.
“Baik, kak. “
Mary merupakan kakakku yang cantik dan baik hati. Sejak kecil Kak Mary rajin bermain dan belajar bersamaku. Dia sangat sabar ketika menemaniku. Dia juga sering melindungiku. Aku sangat menyukai Kakakku. Walau kakak sering bermain nilainya bagus sekali. Kakak tidak pernah mendapat nilai di bawah 90. Kakak merupakan idolaku. Hingga suatu saat kakak dilecehkan. Selama sehari kakak menangis dan mengurung dirinya di dalam kamarnya. Semenjak kejadian itu kakak berubah drastis. Nilainya selalu di bawah KKM. Dia jadi sering mabuk. Suka melawan ayah dan ibu. Namun dia tetap baik padaku. Sampai terjadi peristiwa itu.
“Kakak lihat aku sudah bisa naik sepeda roda dua.”
“Susan, jangan ke jalan raya. Berbahaya. ” Ujar Mary.
“Aku sudah ahli kok, Kak. ”
“Susan, awas ada mobil ! “ jerit Mary.

Kakak langsung melompat ke arahku dan mendorongku ke pinggir jalan. Aku selamat walau salah satu tanganku putus. Tapi kakak tertabrak mobil hingga berlumuran darah.
“Kakak, tanganku sakit, kak.”
“Kak, ayo bangun, kak.”
“Kakak, jangan tiduran di jalan, berbahaya.” Ujarku dengan lirih sambil meneteskan air mata.
Aku menjerit dan menangis. Kakak dan aku dilarikan ke rumah sakit. Dokter mengecek kakak. Kata dokter kakak langsung meninggal di tempat. Sejak saat itu orangtuaku bertengkar dan kehidupanku hancur.

“Begitulah masa laluku, Mary. Sampai sekarang aku juga masih kangen dengannya. “
"Kehidupanmu sangat menyedihkan ya, Susan. “ ujar Mary.
Aku mengangguk pelan. Setelah itu aku dan Mary hanya berjalan di taman tanpa berbicara. Kurasa hari merupakan hari yang tepat untuk mengenangmu, kak. Aku kangen. Aku ingin melihatmu lagi untuk terakhir kalinya. Supaya kamu tahu sekarang aku sudah lebih bahagia. Supaya kita dapat mengerjakan soal seperti dulu. Supaya kita bisa bermain seperti dulu. Supaya aku bisa mengawasimu dan kamu bisa mengawasiku. Aku masih ingat ketika dulu kamu masih hidup. Jadi kuharap kamu juga ingat. Sekarang kamu pasti sudah bahagia di alam baka kan, kak. Eh, tunggu dulu. Bukannya ini alam baka ya ? Jangan-jangan kakak juga di sini.

“Mary, apakah di sini ada arwah yang namanya Eglantine Mary Roxxane, enggak ?”
“ Aku kurang tahu. Kalau mau kita ke resepsionis dulu.” Jawab Mary.
Setelah itu aku dan Mary pergi ke resepsionis. Sampai di resepsionis, Mary berbicara dengan temannya yang menjaga resepsionis dalam bahasa lain. Kata Mary tidak ada kakakku di sini. Aku merasa sedih kukira kakak disini. Kalau kakak disini aku mungkin bisa bertemu dengannya. Sudahlah relakan saja. Aku hanya menghabiskan waktu menunggu takdir yang memanggilku.

Lalu aku dan Mary hanya berjalan di taman untuk menghabiskan waktu. Hingga Mary mengantar aku kembali ke kamar. Tapi aku juga masih ingin bangun. Maka aku membaca komik Detektif Conan, Sailor Moon, Miiko, Moriarty The Patriot, dan lain-lain. Aku pun tenggelam dalam lautan buku komik. Dipenuhi dengan buku komik yang menarik ceritanya, membuatku berdebar-debar. Sekarang aku suka dengan Heiji, Ran, Kazuha, Sera, Sailor Merkury, Sailor Neptunus, Pluto, Yuuko, Mari-chan, Albert, William, Adler, dan banyak lagi. Kepalaku betul-betul dipenuhi dengan tokoh-tokohnya.

Ngomong-ngomong aku sudah lama tidak belajar. Jadi kangen matematika yang sering membuatku pusing, B. Indonesia yang sering membuatku lembur, IPA yang sering membuatku dimarahin banyak orang, seni budaya yang sering membuat urat maluku putus, prakarya yang sering membuatku kesakitan, dan lain-lain. Padahal dulu aku benci belajar. Tapi sekarang jadi kangen. Aku ini memang aneh. Sekarang aku menjadi aneh deh. Disini aku kangen semua yang ada di dunia nyata. Namun dulu aku ingin meninggalkan semuanya, agar aku bebas.

Sudahlah, akhirnya. Aku siap-siap tidur. Sikat gigi, cuci kaki, cuci muka, ganti baju, terus tidur. Aku pun berbaring di atas kasur dengan rambut yang tergerai kemana-mana. Sambil memikirkan hari esok, aku pun menutup mata dan tertidur.

Hari Keempat

Nampaknya ada yang basah dipipiku. Aneh. Selama ini aku tidak pernah ngiler. Atau atapnya bocor. Enggak mungkin di akhirat ada hujan. Biarin aja deh masih ngantuk.
" Gukk ! "
Eh ?
" Pagi, Susan. Suka hadiahku ? " kata Mary.
" Ini anak anjing ? Golden retriver ?! Kok kamu tahu aku suka anjing ?" Jawabku.
" Tahu lah. Kan ada di berkasmu. Lucu kan ? " jawab Mary.
" Ini lucu banget. Bulunya keemasan, terus dia kecil banget. Imut !!" ujarku.
" Syukurlah kamu suka. Mulai sekarang dia akan menjadi temanmu. Dia baru berumur 6 hari. Jenis kelaminnya perempuan. Mau dikasih nama apa ? "
" Namanya......Goldy. Karena bulunya emas. " jawabku.
" Ok. " ujar Mary.

Senangnya. Aku punya anak anjing sekarang. Dulu aku minta beli anjing dengan ayah ibu tidak pernah boleh. Untung juga aku mati. Setidaknya aku punya anjing. Aku langsung mengajak anjing itu bermain-main. Tapi anjing itu tidak mau kuajak berdiri. Kenapa tingkah lakunya aneh sekali. Kuangkat anjing itu.

Deg ! Setelah kuangkat aku manyadari satu hal. Kaki anjing itu buntung satu. Jadi ini maksudnya Mary. Dia berniat memberi memberi tahu aku bahwa aku itu tidak sendirian. Kurasakan sakit hati yang amat mendalam. Aku langsung memeluk anjing itu. Aku merasa kasihan sekali.

Kok ya bisa anjing ini senyum-senyum, menjilat mukaku dengan riang. Bukankah itu sakit ? Dan dengan santainya dia bertingkah seperti ini ? Jadi anjing ini sudah memutuskan untuk menjalani hidupnya dengan keriangan dan kebahagiaan. Tidak seperti aku. Aku hanya melarikan diri dari kenyataan. Bahkan setelah melarikan diri aku menyesal. Anjing ini lebih pintar dari aku ternyata. Dan setelah kusadari sudah 4 hari aku disini. Aku bahkan hanya bersenang- senang dan menyesal. Nasib nanti kayak apa ya ? Apakah aku hidup kembali ? Atau aku hanya barakhir seperti tangan-tangan itu ? Sudahlah aku memutuskan hanya untuk tidur.

Brakk !
Pintu terbuka.
"Hai, Susan. Keluar dulu yuk." Ucap Mary
"Ok."
Aku bersiap siap dengan cepat agar Mary tidak lama menunggu. Tidak lupa aku membawa Goldy.
"Aku sudah siap. "
Mary mengajakku berjalan ke taman yang sama seperti dulu. Aku hanya berjalan mengikuti Mary.
"Ayo duduk disini !" Sahut Mary.
"Ok."
Aku pun duduk di samping Mary.
"Gimana rasanya tinggal disini ?”
"Nyaman sih. Seru juga. Aku juga senang dengan Mary. "
"Oh begitu ya. Hm. Sebenarnya aku mau bilang sesuatu. Besok kamu akan ditentukan nasibnya. Jadi intinya besok kamu sudah tidak disini lagi. " ucap Mary.
"Eh ?!"
Besok aku akan pergi ? Setelah akhirnya aku dekat dengan Mary. Jahat.
"Kenapa aku harus pergi ? "
"Eh !?" Sahut Mary.
"Aku cuma mau sama Mary. Padahal akhirnya aku merasa diterima disini. KENAPA !!!???"
Tes. Tes. Tes. Tes. Eh ? Aku tidak menangis. Jangan-jangan. Aku menatap matanya. Mary menangis.
"Bodoh ! Kamu pikir aku tidak merasa kehilangan ?! Aku juga masih ingin bersamamu !! Selama ini aku juga merasa dekat denganmu !! Bahkan aku menganggapmu sebagai adikku !!" Ucap Mary.
Jadi Mary juga merasakan yang sama ya. Kalau begitu aku juga boleh menangis kan?
"Maaf, maaf, maaf. Maaf Mary."
"Tidak apa apa. Cup cup."

Setelah peristiwa itu aku kembali ke kamar. Malam ini aku tidur dengan Mary. Aku pun bersiap-siap tidur. Setelah itu kami pun tidur bersama sama.

Hari Kelima

Aku terbangun. Kulihat Mary disampingku. Aku merasa aku tidak boleh merasa sedih. Aku harus teguh supaya Mary tidak sedih dengan kepergianku.
"Mary..... bangun yuk. Sudah pagi."
"Engg.....pagiii." Sahut Mary dengan malas.
Aku pun bangun dari tempat tidur. Lalu masak roti bakar dan membuat susu hangat. Aku menyodorkan susu dan roti itu kepada Mary. Mary pun memakan roti dan meminum susu itu dengan kilat.
"Kamu sudah siap ?" Tanya Mary.
"Sudah." Jawabku.

Aku langsung bersiap-siap. Begitu pula Mary. Semuanya terasa merindukan. Aku harus berpisah dengan buku komik ini, kamar ini, apalagi Goldy. Semoga kamar ini dapat digunakan orang lain ya. Dan semoga Goldy memiliki pemilik yang lebih baik. Yang bisa kulakukan hanyalah berharap disini semuanya baik-baik saja.

Setelah itu aku hanya berjalan mengikuti Mary. Ke tempat yang menjadi penentuku. Hingga kita tiba di suatu gerbang. Dan yang ajaib adalah ketika aku melalui gerbang itu pakaianku berubah. Pakaianku berubah menjadi putih, kainnya sehalus sutra, dan modelnya cantik. Lalu aku tiba di sebuah ruangan . Aku memasuki ruangan itu bersama Mary. Ruangan itu gelap sekali. Tapi Mary mengisyaratkan aku untuk masuk. Kalau Mary bilang iya, berarti aku harus masuk. Mendadak terdengar suatu suara.

"Apakah kamu Eglantine Roxanne Susan ?"
"Iya."
Aku hanya menjawab suara yang tidak kuketahui berasal dari mana. Aku hanya melihat kiri dan kananku. Tapi yang ada hanya Mary.
"Takdirmu adalah hidup kembali ke kehidupan yang sama. Apakah kamu setuju ?"
"Iya." Jawabku.
Aku menghela nafas. Kembali ya ?
"Aku akan mengabulkan 1 permohonanmu. Apa yang kamu mau ?"
Permohonanku ? Aku ingin tanganku tidak buntung. Tapi......
"Aku ingin Mary ikut tinggal bersamaku !"
Mary pun terlihat terkejut. Dia langsung menatap aku. Seolah-olah berkata jangan berharap seperti itu. Aku hanya menginginkan satu hal itu. Kenapa tidak boleh ?
"Eh !? Malaikat pelindungmu ?"
Aku menggangguk pelan.
"Maaf tapi permintaan itu tidak dapat kukabulkan. Apakah ada yang lain ?"
“ Kenapa ?! Aku hanya ingin bersama Mary ?!!!”
“ Iya, tapi bagi kami hal yang seperti itu adalah hal yang tabu. Mohon dimengerti." "Tidak. " ucapku. "Baiklah. Kalau hanya itu permohonanmu"

Mendadak aku merasa mengantuk. Tapi aku merasakan pusing yang sangat hebat. Aku hanya berlari pada Mary. Mary pun membuka tangannya untukku. Lalu aku merasa akan pingsan. Kulihat Mary yang menangis. Aku hanya tersenyum sendu. Aku sudah memutuskan untuk tidak membuat Mary menangis. Maka aku mengusap air matanya. Mary masih menangis, tapi ia terlihat kaget dengan perbuatanku. Lalu ia menyadari tujuanku. Setelah itu ia mengusap air matanya sendiri dan tersenyum. Mary pun mencium dahiku layaknya seperti seorang ibu. Perlahan-lahan aku merasa mengantuk. Dan aku tertidur.

"Susan........Susan"
Aku mendengar suara seseorang memanggilku. Tapi siapa ? Kubuka mataku. Kulihat ayahku, ibuku, dan yang aneh adalah aku melihat kakakku. Aku langsung dipeluk oleh ibu. Semuanya ada disini. Menungguku.
Aku hanya tersenyum dan berkata, "Aku pulang...."

Epilog

Sudah berapa tahun kulalui. Sekarang aku menggunakan tangan palsu untuk membantuku. Aku juga menemukan masa depan yang lebih bahagia. Walau perusahaanku lagi bankrut. Jadi setelah aku tertidur dari alam baka, aku terbangun di atas ranjang rumah sakit dikelilingi oleh ayah dan ibuku. Selama aku tinggal di alam baka, disini aku koma selama 4 hari.

Tapi yang paling mengagetkan adalah kakakku hidup. Dan orangtuaku seolah-olah menganggap seolah-olah kakak tidak pernah mati. Jadi nampaknya yang ditangkap oleh si suara yang meminta permohonanku aku meminta kakaku dihidupkan kembali. Walau bukan itu maksudku yah paling enggak aku harus bersyukurkan ?

Sekarang aku sedang belanja untuk mengisi makanan di rumah orangtuaku.
"Hei Susan, mau beli ini ?"
"Eh iya." Jawabku.
Aku merasa aneh. Kenapa orang ini tahu namaku dan tahu merek susu cokelat favoritku ? Kutatap wajahnya lekat-lekat. Aku tidak mengenal cewek ini. Hmm. Sebentar. Rambutnya panjang berombak berwarna cokelat. Wajahnya juga cukup mungil. Bibirnya memakai lipsgloss berwarna cokelat. Dia juga lumayan tinggi. Dia nampak mirip seperti........
" Mary ?!" Tanyaku.
"Iya dong. Setelah hidup lagi kamu jadi tambah cantik ya."
"Maryy !!!!!"

Aku pun jatuh diatas pelukannya. Senang. Senang. Senang. Ternyata aku bisa bertemu dengannya lagi. Aku hanya bisa memeluknya sekuat tenaga. Melihatnya aku merasa semua masalahku hilang.
"Kok, kamu bisa disini ?"
"Jadi waktu itu kami memohon permintaankan ? Akhirnya atasanku memutuskan untuk mengabulkannya. Jadi sekarang kamu punya dua Mary. Mary kakakmu dan Mary yang aku.”
"Ow. Jadi begitu ya. Kamu tambah cantik deh. Pasti entar lagi punya pacar. "
"Aku sudah punya John, Susan. Jadi aku enggak mau dengan yang lain. Kamu bisa panggil aku Anne. Karena namaku adalah Mary Anne. Supaya tidak bingung." "Ok."
“Ngomong-omong kamu ada masalah enggak ?” tanya Anne.
“ Eh, masalah ? Enggak kok. “
Aku hanya tersenyum memeluk Anne dan menjalani kehidupan yang bahagia.

Tamat

Thank You For Coming To My Website

My email : sofiariyadi@gmail.com