My Activity

By Sofia Riyadi

English Version

Masa Depan Aku, Kamu, dan Kita

Oleh Sofia Riyadi

Pada mei 2017, Stephen Hawking, seorang kosmologi (ilmu yang mempelajari tentang struktur dan sejarah alam semesta berskala besar) terkenal memprediksi bahwa usia bumi hanya tinggal 100 tahun lagi. Selama kurun waktu tersebut, manusia harus menyiapkan segala sesuatu dengan baik.

Pada bulan Juli tahun 2017, Stephen Hawking bersama BBC, mengungkapkan pendapatnya mengenai kondisi bumi saat ini. Kondisi yang buruk nantinya akan membuat bumi menjadi tempat yang tidak layak untuk ditinggal oleh manusia, maka manusia harus mencari tempat tinggal baru sebagai ganti bumi entah di planet lain atau pesawat luar angkasa. Karena jika manusia tidak mencari tempat tinggal baru, manusia bisa punah.

Stephen Hawking juga menambahkan bahwa saat ini manusia sedang dalam masa kritis pemanasan global. Hal tersebut dapat membuat bumi menjadi layaknya planet Venus. Suhu di bumi dapat meningkat sampai 250 derajat celcius dan terjadi hujan asam sulfat. Pada kodisi tersebut, tidak mungkin manusia dapat bertahan hidup.

Lalu pada November 2017, Stepehen Hawking mengemukakan pendapat lainnya. Yaitu pada 2600 diprediksi populasi bumi akan terus meningkat bahkan melebihi bumi sendiri. Semakin tinggi populasi di bumi akan membuat konsumsi listrik semakin meningkat. Hal tersebut disebabkan kebutuhan dan kegiatan sehari-hari yang tidak bisa lepas dari listrik. Tingginya konsumsi listrik akan membuat bumi berkilau seperti api merah.

“Hah, bosan. Kenapa semua koran-koran hanya menulis tentang orang Amerika ini saja sih. Beritakan yang lain dong. Lagian waktu 2017 dulu, juga enggak diberitakan besar-besaran gini, Ma.”
“Kamu diberitahu berkali-kali mengerti tidak sih ?! Kan sudah Mama bilang, baca dulu korannya. Koran itu menuliskan berita yang sangat penting tahu !”
“Iya sih, tapi kan aku juga mau baca koran yang isinya tentang sepak bola. Lagian aku baca koran itu bukan berarti lalu manusia tidak jadi punah kan ??”
“Banyu !! Heh, kamu sudah besar begini masih membantah Mama ya !! Kamu berani membantah sekali lagi, Mama suruh kamu keluar rumah sekarang juga !!!!”
“Iya iya, Bu Hapsari Laras Adinata.”, ucap Banyu.
“Nah gitu dong. Dari kecil mesti lho kamu tu ngeyel terus sama Mama. Kenapa kamu enggak bisa kayak Santi sih. Anteng. Enggak kaya kamu gratilan disana disini.”, ucap Mama, sambil memasak bakmi godog.

Aku pun duduk di meja makan dengan tenang sambil menonton Mama dan Banyu bertengkar untuk ke berapa kalinya hari ini. Memang Banyu itu satu-satu orang di rumah yang bisa membuat tensi darah Mama naik. Namun ucapan Banyu ada benarnya juga. Kita membaca koran bukan berarti lalu manusia tidak menjadi punah. Manusia pasti tetap punah.

Karena hal tersebut sudah telat jika ada orang yang mau mencegah manusia punah. Dari dulu kebiasaan manusia yang jelek-jelek tidak diubah sih. Jadinya sekarang di 2040 manusia tinggal menunggu waktu punah deh. Tapi terus terang aku kaget dengan Stehin atau siapa lah tadi itu, bisa meramal masa depan manusia dengan tepat. Karena hampir semua yang dibaca si Banyu itu benar. Kecuali bagian usia bumi hanya tinggal 100 tahun lagi dan yang tentang bumi bisa mencapai 250 derajat. Kenapa tidak benar ? Tentu saja, karena usia bumi bukan hanya tinggal 100 tahun dari 2017, namun hanya tinggal 23 tahun dari 2017. Dan suhu di bumi memang naik, namun tidak setinggi itu juga naiknya, karena kalau sekarang 250 derajat pasti kita sudah mati.

Bumi juga sudah rusak berat. Dua puluh lima persen dari bumi sudah menjadi kering sekali. Banyak berita tentang orang-orang yang mengalami kekeringan. Pemerintahan juga tidak dapat melakukan apa-apa. Bahkan sekarang disini, di Indonesia, telah banyak orang yang meninggal karena kelaparan, yang disebabkan oleh kurangnya bahan pangan. Pokoknya sekarang dunia benar-benar sudah di ujung tanduk.
“Banyu ! Tolong nyalakan tv-nya !”, ucap Mama.
“Ya.”, ucap Banyu.
“Baik Pemirsa. Pada hari ini ada kejadian yang sangat mengejutkan. Akhirnya gunung berapi di seluruh dunia meletus bersamaan pada pukul 07.43. Para pemirsa diharapkan segera mengungsi ke tempat mengungsi terdekat.”

“Banyu, Santi !! Ayo bawa tas darurat kalian !! Cepat-cepat !!!“, ucap Mama.
Aku langsung bergerak dengan cepat, begitu pula Banyu. Aku hanya langsung menyambar tas daruratku, lalu segera menuju pintu depan. Kulihat Mama sudah siap. Setelah Banyu juga sudah siap, kami berlari ke tempat mengungsi terdekat. Kulihat disana sudah banyak orang. Orang-orang panik dan dorong-dorongan. Hingga helikopter evakuasi miliki pemerintah datang. Orang-orang berteriakan senang. Lalu kami pun buru-buru naik helikopter, sebelum tidak punya tempat. Aku dan Banyu sudah naik helikopternya. Namun kulihat Mama tertinggal, karena halikopternya penuh.
“Ma !!!!!!”
“Santi !!!! Jaga adikmu ya !!!!”, ucap Mama.
“Enggak enggak !!!! Masih ada tempat !!!”
“Santi, yang lain lebih membutuhkan helikopternya.”, ucap Mama.

Lalu kurasa helikopternya mulai berangkat. Helikopter mulai terbang kembali. Aku pun menangis melihat Mama yang tertinggal di bawah. Kulihat Banyu. Banyu yang tidak bisa mempercayai apa yang terjadi barusan, diam saja sambil melihat mama yang tertinggal. Lalu kulihat lahar mulai mencapai tempat Mama. Kemudian dalam sekerjap mata, aku sudah tidak dapat melihat Mama lagi. Aku pun berpelukan dengan Banyu. Kemudian setelah kuperhatikan, kami dibawa ke tempat penerbangan pesawat luar angkasa milik Indonesia yang terletak di Jalan Malioboro.
“Ayo turun !!! Cepat-cepat !!“, ucap salah satu petugas sambil membuka pintu helikopter.
Aku dan Banyu pun turun.
“Bagi yang baru datang, silahkan menuju sini. Kalian akan naik pesawat luar angkasa ini, lalu ditujukan ke planet Mars yang sudah pemerintah siapkan untuk ditinggali.”, ucap salah satu petugas.

Aku melihat Banyu. Banyu pun melihat aku.
“Yuk, Nyu !”, ucapku.
Banyu pun mengangguk dan menggandeng tanganku. Aku tidak yakin kami akan baik-baik. Tapi aku tahu kalau pemerintah sudah berjuang sebaik-baiknya. Karena ini merupakan masa depan aku, kamu, dan kita semua.

TAMAT


Thank You For Coming To My Website

My email : sofiariyadi@gmail.com